Categories
Review Game

[REVIEW] Aliens: Fireteam Elite – Nostalgia Tanpa Kualitas Tinggi

E-P-C – Pada 24 Agustus 2021 lalu, Steam sudah jual games dengan judul Aliens: Fireteam Elite pada harga Rp319 ribu dan Rp559 ribu untuk versus deluxe edition. Untuk fans games atau film Alien, pasti banyak pada mereka langsung memikirkan masifnya gempuran Xenomorphs sang makhluk asing yang beringas dan tanpa ampun.

Nach, narasi tipikal dihidangkan dalam games terbaru ini kali. Sebagai sebuah team, kamu harus lakukan pekerjaan atau visi beresiko di tengah-tengah garangnya makhluk asing. Games garapan Cold Iron Studios itu telah jalan dengan Unreal Engine 4 yang—seharusnya—di atas kertas sanggup mengangkat kualitas visual.

Apa Aliens: Fireteam Elite pantas untuk jadi koleksi? Saat sebelum beli games ini, kamu dapat membaca ulasan komplet di bawah ini. Oh, ya, ulasan ini kali memiliki kandungan spoiler, ya!

1. Berat narasi yang dapat dimengerti

[REVIEW] Aliens: Fireteam Elite - Nostalgia Tanpa Kualitas Tinggi

Harus dianggap, saat sebelum peluncurannya, Aliens: Fireteam Elite memperoleh banyak asumsi miring dari beberapa fans di penjuru dunia, terhitung penulis. Bukan tanpa ada alasan, penulis sendiri cukup trauma dengan games awalnya, yaitu Aliens: Colonial Marines yang di-launching pada 2013 kemarin. Walau berlainan developer, tetap rasa skeptis itu tetap membekas.

Nach, ternyata, plot atau alur cerita games Alien ini kali cukup memikat buat dituruti, lho. Kemungkinan belum capai tingkat yang sangatlah baik seperti DOOM Eternal. Tetapi, minimal Aliens: Fireteam Elite mampu meramu alur cerita yang lebih memiliki bobot daripada saudara-saudaranya di periode kemarin. Pada dasarnya, kita akan hadapi beberapa kumpulan Xenomorphs yang menyebalkan.

Background dari narasi khusus ada di tahun 2202 ketika berada sebuah kasus misteri yang terjadi di Stasiun Katanga. Anehnya, awalnya stasiun itu telah dipandang remuk dan diprediksikan tidak lagi ada kehidupan di situ. Tetapi, USS Endeavour sebagai yang menerima signal genting masih tetap mengirim pasukan khusus untuk lakukan visi penyidikan.

Sayang, aura menakutkan yang didatangkan masih demikian dangkal. Di menit awalnya saja, pemain harusnya berjibaku dengan beberapa puluh Xenomorphs yang lumayan gampang untuk dikalahkan. Jarang-jarang ada alien yang pelan-pelan dan serang kita secara tiba-tiba. Malah yang ada justru segerombolan alien di depan kita yang seakan menyerahkan diri untuk dihajar.

Tetapi, pada umumnya, alur cerita telah dibikin lebih bagus daripada perintisnya. Teknisnya, berharap dimengerti jika sebuah plot untuk games kooperatif jenis ini memanglah tidak dapat dibikin demikian dalam. Kita cuman ditugaskan memberantas lawan dan meneruskan visi dari 1 titik di titik seterusnya.

2. Permainkan bersama teman-temanmu

[REVIEW] Aliens: Fireteam Elite - Nostalgia Tanpa Kualitas Tinggi - Softhard

Pertama kalinya mainkan Aliens: Fireteam Elite kemarin, penulis sempat menyamai games ini dengan Left 4 Dead, sebuah games multiplayer yang sama berusaha menjadi penyintas. Perbedaannya, dalam games Alien ini, kita akan diberi peluang saat lakukan penyesuaian watak pada awal games.

Seterusnya, 3 orang, terhitung watak khusus, pasukan elite akan ditugaskan lakukan visi untuk menyelidik, menghancurkan, dan berperang menantang Xenomorphs yang banyaknya tidak kurang lebih itu. Gameplay jenis ini sangat terasa kental dan linear dengan beberapa game sama.

Gerakan watak bisa juga kita mengatur dengan lumayan baik. Satu yang sayang, AI teman-kawanmu sangat terasa bodoh pada saat kamu mainkan model singgel-player. Saat enak-enak sedang mengincar kepala lawan, secara tiba-tiba, team kita ada di depan dan diam di situ. Peristiwa ini bukan hanya sekali, tetapi berulang-kali hingga membuat penulis cukup frustrasi.

Jalan keluarnya cuman dua. Pertama, bermainlah secara multiplayer. Dengan ini, games bertambah hebat karena kamu dapat mengikutsertakan teman-temanmu dalam suatu team. Ke-2 , bila bermain sendirian, mengatur status watak khusus untuk ada di baris paling depan. Dalam kata lain, kamu jadi pimpinan team sekalian tameng untuk pasukanmu.

3. Tidak boleh permainkan di PS5 dan Xbox Seri X

Aliens: Fireteam Elite - Softhard

Bukan tujuan hati untuk menghasut beberapa gamer. Mengapa penulis merekomendasikan mainkan games ini di PC dan PS4? Itu karena kualitas grafis dari Aliens: Fireteam Elite termasuk standard, bahkan juga ketinggal bila dibanding dengan beberapa game modern yang lain. Games garapan Cold Iron Studios ini dapat digerakkan di PC dengan RAM 8 GB dan cuman memerlukan sekitaran 30 GB penyimpanan.

[REVIEW] Nioh 2 – The Complete Edition – Menimbulkan Aura Gelap di Jaman Sengoku

10 Pemain dengan Peringkat Paling tinggi di PES 2020, Ronaldo dan Messi Puncaknya !

Bila dimainkan di konsol PS5 atau Xbox Seri X, grafis yang diperlihatkan akan condong serupa. Seandainyapun ada kenaikan, kemungkinan itu tidak berapa. Deskripsi Xenomorphs dapat diperlihatkan dengan cukup bagus dengan semua detilnya. Tetapi, dalam beberapa kasus, pijakkan-tumpukan segerombolan alien terkadang seperti terlihat grafis zaman 2015-an.

Bagaimana bila dibanding dengan Aliens: Colonial Marines? Terang cukup berbeda jauh. Bagaimana juga, grafis Aliens: Fireteam Elite yang berjalan pada Unreal Engine 4 masih lumayan membesarkan hati walau tidak seheboh beberapa game luar angkasa yang lain, seperti DOOM Eternal, Star Wars: Squadrons, dan kemungkinan Halo Infinite yang gagasan launching Desember 2021 kedepan.

4. Kualitas audio yang umum saja

Aliens: Fireteam Elite Review - IGN

Kemungkinan ini relatif, tapi penulis tidak memperoleh pengalaman audio yang mengagumkan sepanjang mainkan games ini. Entahlah itu memakai earphone atau mungkin tidak, audio yang dibuat dirasakan garing dan biasa-biasa saja. Aura horor dan mendebarkan pun tidak didapat karena musiknya dipandang kurang memberikan dukungan.

Belum juga bila harus dengarkan audio dari pengisi suaranya, masing-masing watak akan kedengar datar dan kurang menghayati sesuai keadaan yang ada. Misalkan, di saat gerombolan Xenomorphs garang serang secara beringas, suara dari watak team dan komandan di pusat kontrol akan kedengar biasa-biasa saja seakan tidak ada apa-apa.

Maka tidak boleh berharap audio dalam Aliens: Fireteam Elite akan sedahsyat Gears 5 yang telah di-launching pada 2019 lalu untuk PC dan Xbox. Walau tidak dikelompokkan buruk-buruk sangat, masih tetap benar-benar sayang bila lingkungan yang dark dan menakutkan cuman disertai oleh audio dan suara watak yang datar.

5. Dapat bangunkan memory fans

Aliens: Fireteam Elite Tips and Tricks Survival Guide | Aliens: Fireteam  Elite

Satu perihal yang jelas dirasakan oleh penulis, sepanjang mainkan games ini, penulis sudah rasakan kenangan yang cukup intensif mengenai cerita-kisah legendaris alien Xenomorphs di periode kemarin. Sekitaran 3 atau 4 jam permainan, penulis sudah dibikin lupakan kekurangan tehnis di situ sini.

Kamu terus akan jalan telusuri lorong-lorong stasiun luar angkasa yang gelap tanpa perduli dengan jeleknya audio dan AI dari pasukanmu. Tetapi, bila harus jujur, permasalahan grafis, audio, dan AI ialah minus paling besar dalam games ini. Menghidupkan memory masa lampau terkadang dirasakan kurang cukup kuat untuk games modern untuk merampas hati fans.

Well, waralaba besar Alien kemungkinan telah terlanjur dikenali lewat beberapa karya filmnya yang fantastis dan legendaris. Dalam masalah ini, seri games yang dibikin sebenarnya cuman dipandang seperti pendamping minimalis untuk banyak fans di dunia. Pasti tidak gampang untuk sutradara untuk membikin narasi games yang didasari pada waralaba bernama keren.

Keseluruhannya, score akhir yang dapat diberi oleh penulis ialah 3/5. Untuk penulis, kenangan semakin lebih prima pada saat disertai dengan grafis, alur cerita, dan audio yang serupa baiknya.

Baca Juga : 7 Developer Game yang Sudah “Tutup” dengan Daftar Games Luar Biasa!

 

Categories
Review Game

[REVIEW] Nioh 2 – The Complete Edition – Menimbulkan Aura Gelap di Jaman Sengoku

E-P-C – Nioh 2 – The Complete Edition sebagai games garapan Koei Tecmo yang meliputi semua content dan sisi dari Nioh 2 ditambahkan dengan 3 pengembangan DLC, yaitu The Tengu’s Disciple, Darkness in the Capital, dan The First Samurai. Kreasi sama dari developer Tim Ninja ini dikenali sebagai games samurai yang bertopik dark dan sarat dengan mistik.

Di-launching pada 5 Februari 2021, Nioh 2 – The Complete Edition masih tetap menyuguhkan cerita samurai kuat dengan bebatan grafis yang mempesona. Nach, bagaimana penilaian dari games yang ini? Yok, kita baca pembahasan secara singkat berikut ini.

1. Prekuel epik di jaman Sengoku

[REVIEW] Nioh 2 - The Complete Edition - Menimbulkan Aura Gelap di Jaman Sengoku

Nioh 2 – The Complete Edition bercerita prekuel atau cerita saat sebelum games Nioh sisi pertama. Background pada games ini diambil dari cerita kuno di jaman Sengoku, persisnya di akhir 1500-an. Sudah pasti alur cerita dalam games sebagai cerita fiktif dan disembunyikan beberapa cerita berkenaan riwayat Jepang di jaman keemasan samurai era ke-16.

Kamu akan mainkan figur protagonis yang hendak kamu penyesuaian lebih dulu pada awal narasi. Semenjak awalnya, watak yang kita permainkan telah terhitung ke kelompok manusia yang berkekuatan khusus, terhitung kuasai komponen Yoka, semacam makhluk astral dari Yokai Realm. Penjelajahan di jaman Sengoku Jepang akan membawamu pada beberapa tokoh samurai besar di periode kemarin.

Kamu akan turut serta dengan barisan pemburu iblis dan beberapa faksi yang lain yang berperan dalam keruntuhan salah satunya panglima perang legendaris Jepang. Satu perihal yang memikat ialah keterkaitanmu secara dalam di beberapa cerita yang sempat terjadi di jaman Sengoku. Tentu saja, semua diwujudkan dengan perjalanan hidup yang berisi beberapa hal fiktif dan mistik.

Oh, ya, semenjak awalnya diperkenalkan, pengembang telah mengatakan jika ada beberapa nama besar pimpinan Jepang di era ke-16 yang akan diperlihatkan. Benar saja, watak-karakter legendaris jenis Oda Nobunaga, Takenaka Hanbei, Akechi Mitsuhide, Azai Nagamasa, Hattori Hanzo, dan Tadakatsu Honda bisa diperlihatkan dengan epik oleh Koei Tecmo.

2. Mekanisme permainan yang agresif, tapi masih tetap berteman

[REVIEW] Nioh 2 - The Complete Edition - Menimbulkan Aura Gelap di Jaman Sengoku - E-P-C

Untuk penulis, mainkan Nioh 2 – The Complete Edition lewat basis PC semakin terasa cepat dan adaptive. Tujuannya, walau gameplay berasa kompleks dan agresif, personalitasnya masih gampang untuk diadaptasi oleh beberapa pemain yang baru mainkan games Nioh. Ya, seperti seri pertama kalinya, watak pertempuran yang ditemui oleh pemain akan berasa warna dengan beragam jenis macam gempuran.

Selainnya tiga tipe combat stance, pemain harus juga kuasai mekanisme Flux. Feature ini sebenarnya cukuplah sederhana, yaitu kembalikan beberapa stamina langsung di saat berperang dengan lawan. Tetapi, bila tidak menguasainya secara baik, kamu akan kesusahan bertanding dengan beberapa musuh yang mempunyai Ki (stamina) yang tinggi. Oh, ya, ada banyak tambahan senjata baru walau kehadiran senjata-senjata lama masih tetap dipertahankan.

Nach, salah satunya feature paling unik dalam games ini ialah kekuatan watak khusus dalam berbeda bentuk jadi iblis Yokai . Maka, dapat secara cepat kita pahami jika watak yang kita permainkan memang bukan manusia biasa. Bila sukai dengan style pertempuran yang cepat, keras, dan hajar kromo, feature Yokai ini dapat kamu gunakan untuk menyeimbangi lawan yang sama masuk ke kelompok iblis.

Terang Koei Tecmo ingin membandingkan Nioh dan Nioh 2 – The Complete Edition pada segi gameplay-nya. Ini kali, dengan adanya banyak lawan yang sangat membahayakan, mereka sukses membuat mekanisme permainan yang agresif, beringas, dan cepat. Tetapi, semua bisa digerakkan secara ramah dan lumayan gampang untuk diadaptasi.

3. Kualitas visual terang mempesona

Nioh 2 -  E-P-C

Mengagumkan dan mempesona, berikut kesan-kesan pertama penulis di saat mainkan Nioh 2 – The Complete Edition lewat PC. Selainnya PC, games ini di-launching untuk PS4 dan PS5. Adapun, kualitas grafis pada versus PS5-nya kelihatan lebih tajam daripada PS4. Untuk masalah grafis, Tim Ninja lewat Koei Tecmo memang tidak pernah bermain-main dalam tampilkan watak yang menganakemaskan mata.

Design manusia dan iblis dapat dilukiskan dengan inovatif dan detil. Belum juga beberapa episode kece yang terkait dengan pertempuran barbar di dunia Yokai, tentunya membuat kita semakin agresif dalam mainkan kreasi yang dicatat oleh Ryohei Hayashi ini. Kehadiran beragam jenis lawan dari kelompok iblis akan lebih memperkuat aura yang dark dan gelap.

[REVIEW] LOST in Blue (Global) – Jadilah Penyintas yang Inovatif

[REVIEW] Marvel’s Avengers: War for Wakanda – Keren Tanpa Komponen Baru

Tetapi, di luar dunia iblis, penampilan semua watak manusianya diangkat secara bagus. Kamu akan menyaksikan bagaimana detil dan rapinya pelukisan beberapa tokoh manusia yang memakai armor, senjata, dan peralatan tempur yang lain. Bila saja kedatangan beberapa Yokai dapat dikesampingkan, kamu malah akan terlarut pada beberapa cerita samurai classic dengan semua jenis plot politiknya.

Pada umumnya, kualitas visual pada Nioh 2 – The Complete Edition dapat disamakan dengan games kelas tinggi yang lain. Memainkan sepanjang beberapa jam di tengah-tengah penampilan kelas tinggi malah dapat beresiko hanya karena membuat kita lupa waktu. So, jika ingin tahu dengan style visualnya, kamu dapat membeli di Steam dengan harga Rp699 ribu.

4. Kualitas audionya juga tidak kaleng-kaleng

Mengobrol dengan Team Ninja tentang Nioh 2 - E-P-C

Sebenarnya, Tim Ninja dan Koei Tecmo bukan terhitung developer yang menyukai dengan audio berlebihan seperti pengembang banyak games barat, jenis Activision, BioWare, EA Sport, atau Epic Game. Yap, dapat disebutkan jika Koei Tecmo sama dengan audio ciri khas Jepang yang enteng, imut, dan bertopik cerah. Bahkan juga, mereka telah sama dengan audio jenis itu semenjak 25 tahun kemarin.

Lihat saja banyak gaung mereka, seperti Dead or Alive (1996), Ninja Gaiden, dan Fire Emblem Warriors, semua memakai tipe audio yang lumayan ringan, cerah, dan benar-benar kental dengan games ciri khas Jepang. Nach, bukannya memakai langkah yang serupa, Koei Tecmo malah meningkatkan games dengan audio yang berkesan gelap, berat, dan dewasa.

Beberapa sisi gelap dari jaman Sengoku di Jepang dapat ditranslate dengan baik sekali lewat audio yang tentu saja tidak kaleng-kaleng. Untuk menunjukkan kesungguhannya, faksi developer menggamit Yugo Kanno, seorang komposer dan pemusik asal Jepang yang berhasil bikin beragam jenis audio untuk anime dan seri tv. Itu penyebabnya, mainkan games ini dengan earphone berkualitas ialah jalan terbaik untuk nikmati aura mistik dan gelap di dunia Yokai.

5. Salah satunya kreasi terbaik yang harus dikoleksi

Nioh 2: Tips - E-P-C

Untuk penulis, Nioh 2 – The Complete Edition ialah kreasi terbaik yang sempat dibikin oleh Tim Ninja, bahkan juga melewati seri Nioh yang pertama. Alur cerita epik yang gelap, jumlahnya beberapa tokoh legendaris Jepang yang didatangkan, gameplay agresif, grafis keren, dan audio menakjubkan ialah jejeran bukti jika games ini pantas untuk memperoleh animo lebih.

Bila mempunyai konsol PS5, kamu seharusnya tidak melewati judul kece yang ini. Sudah tentu grafisnya lebih tajam dan detil. Tentu saja ini didukung dengan kualitas 3D Audio punya Sony. Oh, ya, untuk gamer yang pemula dengan mekanisme permainan action role-playing games, kamu tidak perlu cemas karena Nioh 2 – The Complete Edition masih lumayan berteman buat dimainkan.

So, penulis memberi score 4,5/5 untuk games mengenai pemburu iblis ini. Kamu dapat memainkan di konsol PS4, PS5, dan basis PC. Sayang, kemungkinan pengembang tidak melaunching seri Nioh ke konsol Xbox Seri X. Walau sebenarnya, banyak gamer Xbox yang telah jatuh cinta dengan games hack and slash ini.

Baca Juga : PlayStation dan Kumpulan Konsol Games yang Digemari pada Tahun 90-an

Categories
Review Game

[REVIEW] Marvel’s Avengers: War for Wakanda – Keren Tanpa Komponen Baru

E-P-C – Dalam Semesta Marvel, keterikatan antartokoh yang satu sama watak yang lain menjadi sebuah ramuan tertentu yang tentu saja disikapi positif. Pahlawan super, jenis Iron Man, Hulk, Thor, Captain America, Black Widow, Hawkeye, Spider-Man, dan Black Panther, mempunyai narasi yang sama-sama terkait untuk maksud yang serupa, yaitu membuat perlindungan dunia dari tangan antagonis.

Nach, alur cerita yang sama dipakai Crystal Dynamics dalam meramu dan meningkatkan games dengan judul Marvel’s Avengers. Tidak bermain-main, Square Enix jadi perusahaan yang melaunching langsung games menarik itu pada 4 September 2020 untuk PC, PS4, dan Xbox One. Hasilnya bagaimana? Lumayan, walau ada beberapa kritikan di mana saja.

Kritikan tidak lalu membuat pengembang jadi kurang percaya diri dalam meningkatkan games pengembangannya. Bisa dibuktikan, pada 17 Agustus 2021 lalu, Square Enix kembali melaunching pengembangan dengan judul Marvel’s Avengers: War for Wakanda yang pasti fokus pada figur Black Panther dalam selamatkan dunia Wakanda.

Hasilnya bagaimana? Kita turuti saja ulasan komplet di bawah ini. Yok, dibaca!

Dalam Semesta Marvel, keterikatan antartokoh yang satu sama watak yang lain menjadi sebuah ramuan tertentu yang tentu saja disikapi positif. Pahlawan super, jenis Iron Man, Hulk, Thor, Captain America, Black Widow, Hawkeye, Spider-Man, dan Black Panther, mempunyai narasi yang sama-sama terkait untuk maksud yang serupa, yaitu membuat perlindungan dunia dari tangan antagonis.

Nach, alur cerita yang sama dipakai Crystal Dynamics dalam meramu dan meningkatkan games dengan judul Marvel’s Avengers. Tidak bermain-main, Square Enix jadi perusahaan yang melaunching langsung games menarik itu pada 4 September 2020 untuk PC, PS4, dan Xbox One. Hasilnya bagaimana? Lumayan, walau ada beberapa kritikan di mana saja.

Kritikan tidak lalu membuat pengembang jadi kurang percaya diri dalam meningkatkan games pengembangannya. Bisa dibuktikan, pada 17 Agustus 2021 lalu, Square Enix kembali melaunching pengembangan dengan judul Marvel’s Avengers: War for Wakanda yang pasti fokus pada figur Black Panther dalam selamatkan dunia Wakanda.

Hasilnya bagaimana? Kita turuti saja ulasan komplet di bawah ini. Yok, dibaca!

1. Penjelajahan T’challa yang seperti narasi aslinya

[REVIEW] Marvel's Avengers: War for Wakanda - Keren Tanpa Komponen Baru

Well, bila sudah baca komik dan melihat filmnya, kamu akan mendapati alur cerita linear yang sama pada games ini kali. Black Panther akan bekerja untuk selamatkan Wakanda dari lawan bebuyutan namanya Ulysses Claw atau Klaw yang hendak merampas vibranium untuk kuasai dunia. Crossbone ada sebagai salah satunya penjahat dalam pengembangan ini kali.

Perbedaannya dengan Semesta Marvel di komik dan film ada di kemampuan watak yang ditampilkan oleh Klaw. Yap, Klaw versus games terlihat semakin kuat, gesit, curang, dan mahir dibanding versus Klaw pada filmnya. Tidak itu saja, macam pasukan lawan kelihatan benar-benar bermacam bila dibanding langsung dengan Marvel’s Avengers awalnya.

Seperti jalankan penjelajahan T’challa pada film, kita akan rasakan bagaimana games ini dibikin. Untuk kamu yang telah pakem dan fanatik dengan Black Panther versus MCU, kemungkinan games ini bakal menjadi koleksi yang memiliki sifat harus. Tetapi, jika kamu type gamer yang baru masuk ke dunia Marvel di zaman konsol next gen terkini, cerita Black Panther ini kemungkinan cuma bisa menjadi pendamping.

Pada umumnya, memanglah tidak ada komponen baru untuk membikin alur cerita jadi lebih dalam kembali. Jalur lumayan gampang diterka–karena penulis juga melihat versus filmnya. Lantas, kehadiran pasukan punya Klaw dirasakan tidak rata. Di satu segi, kualitas mereka seperti noob yang paling gampang dihajar. Di lain sisi, mereka dapat seperti pemain pro dengan health bar yang tebal.

2. Visi repetitif yang dapat membuat jemu

[REVIEW] Marvel's Avengers: War for Wakanda - Keren Tanpa Komponen Baru - E-P-C

Untuk masalah gameplay, bermacam games Marvel umumnya akan sangat terasa menarik dan gampang dimainkan tanpa penyesuaian terlampau dalam, begitupun dengan pengembangan yang ini. Proses pergerakan setiap personalitasnya dirasakan cukup membahagiakan. Jika bisa disebut, gameplay kemungkinan menjadi salah satunya kelebihan bila dibanding dengan plot atau alur ceritanya.

Kamu akan gerakkan Black Panther yang gesit, kuat, dan tentu saja sarat dengan episode akrobatik. Hal ini telah dikenali dalam beberapa games Marvel yang lain. Tetapi, khusus untuk Black Panther, pergerakan dalam serang akan kamu alami seperti beberapa gerakan hack and slash dengan gabungan pukulan dan sepakan mematikan. Belum juga jika menyaksikan pahlawan Wakanda itu lakukan gabungan capoeira, ditanggung semakin kece dan asyik.

Selainnya serang, si protagonis bisa juga melakukan tindakan dalam bertahan. Yap, lewat armor kepunyaannya, Black Panther dapat membuat energi untuk jadi gelombang kejut. Masalah visi, Marvel’s Avengers: War for Wakanda berkesan biasa-biasa saja. Ada visi khusus dan pasti visi sambilan yang dapat digerakkan untuk memperoleh hadiah.

Yang pantas dikenang ialah durasi waktu permainan. Bila mainkan di bawah 4 jam, kemungkinan tidak jadi permasalahan. Tetapi, di atas itu, kamu akan jemu dan benar-benar jemu untuk memainkan. Apa lagi, ada banyak visi berhadiah yang mengharuskan pemain untuk lakukan grinding yang garing dan menjemukan. Bahkan juga, umumnya tugasnya benar-benar repetitif dan berkesan itu melulu.

Pilihan Game Online Indonesia 3d Versi Terbaru

Nikmati Game Buatan Indonesia 3d Dengan Tampilan Baru

3. Grafis keren walau bukan yang terbaik

Marvel Avengers - E-P-C

Untung developer dapat membuat pengembangan ini kali dengan grafis bagus. Minimal, grafis bagus akan kurangi rasa jemu ketika grinding dan lakukan visi yang itu melulu. Dunia Wakanda dilukiskan dengan benar-benar detil, cantik, hidup, dan pasti imbang di antara kekinian dan tradisionil.

Walau bukan terhitung kelas memikat, grafis pada games ini kali lebih baik daripada pengembangan-ekspansi awalnya. Oh, ya, khusus untuk senjata dan armor dari si protagonis, Crystal Dynamics sebagai pengembang ternyata dapat membuat semua lebih nikmat untuk dilihat. Macam lawan juga bermacam dan dapat diperlihatkan dengan cukup detil.

Grafis pada War for Wakanda ini memanglah tidak dapat disebutkan jadi grafis terbaik untuk games sekelas PS5 dan PC modern. Bila dibanding dengan beberapa games bergrafis memikat yang lain, pengembangan kali ini kelihatan masih ketinggal. Tetapi, pada umumnya, Square Enix dan Crystal Dyamics bisa berbangga karena penampilan grafis punya mereka telah dikelompokkan bagus.

4. Audio lumayan bagus, tapi kurang dari sisi kreasi

Marvel's Avengers: War for Wakanda preview: the Black Panther DLC is a step  in the right direction | GamesRadar+

Walau ada kenaikan, audio, musik, dan suara watak dalam games pengembangan ini kali masih dirasakan kurang inovatif. Bukanlah buruk, tetapi tetap ada yang kurang, bahkan juga di beberapa momen tertentu akan berasa mengusik (annoying). Dengar kualitas audio pada Marvel’s Avengers: War for Wakanda, akan lebih bagus kembali bila kamu menggunakan earphone.

Oh, ya, berharap menjaga harapanmu bila ingin mainkan games yang berwarna-warna ini. Masalahnya dampak audio yang dipakai sudah pasti berlainan dengan audio dalam beberapa film Marvel umumnya. Bila dapat diambil penilaian, kualitas audio dalam games ini kali tidak jelek dan tidak demikian bagus alias biasa saja.

5. Harus dikoleksi oleh fans Black Panther

War For Wakanda adds 7-8 hours of story content to Marvel's Avengers |  PCGamesN

Keseluruhannya, produser dan sutradara telah dipandang mampu hidupkan Black Panther ke sebuah games khusus berbentuk pengembangan. Kelihatan jika mereka bermain aman dengan ikuti jalan cerita yang serupa tepat seperti pada film dan komiknya. Walau terkadang dirasakan menjemukan, Marvel’s Avengers ini kali dapat menanganinya dengan kenaikan grafis dan gameplay yang menyenangkan.

Bila kamu fans Semesta Marvel, khususnya watak Black Panther, games ini dapat menjadi satu diantara koleksi bernilai. Kebalikannya, bila tidak demikian sukai dengan dunia Marvel dan sekedar ingin ketahui, pengembangan ini kali kemungkinan tidak demikian memikat buat kamu turuti.

Misi-misi yang dirasa repetitif dan meletihkan kemungkinan menjadi satu diantara minus paling besar dalam games ini. Tidak dipungkuri, memanglah tidak gampang membuat games dengan keterkaitan visi sambilan yang sarat dengan grinding. Salah-salah, gamer cuman memainkan tidak sampai 3 jam. Well, untuk penulis, score untuk Marvel’s Avengers: War for Wakanda ialah 3/5.

Baca Juga : [REVIEW] LOST in Blue (Global) – Jadilah Penyintas yang Inovatif