Categories
Review Game

[REVIEW] Mass Efek Legendary Edition – Mahakarya untuk Trilogi Terbaik

E-P-C – Sebagai salah satunya developer games terbaik, BioWare memang jago meramu dan membuat beberapa games berkualitas pada jalan narasi memiliki bobot. Cerita-kisah kepahlawanan yang epik kerap kali jadi plot khusus dalam kreasi besar mereka. Lihat saja banyak games hebat mereka, jenis Dragon Age: Origins, Dragon Age: Inquisition, Jade Empire, Baldur’s Gate, dan seri Star Wars.

Semua sebagai games kelas tinggi dengan plot narasi dalam, gameplay kece, grafis hebat, dan audio memikat. Nach, salah satunya games terbaik punya BioWare ialah Mass Efek yang terdiri jadi tiga seri khusus. Semua seri itu memperoleh ulasan positif walau ada juga beberapa kritikan.

Pada 14 Mei 2021 lalu, BioWare dan Elektronik Arts kambali melaunching games slot online terakhir dengan judul Mass Efek Legendary Edition sebagai kombinasi dari ke-3 seri awalnya. Sebaik apa games instruksi sutradara Mac Walters itu? Yok, baca ulasan di bawah ini.

1. Cerita komplet pada sebuah bebatan yang utuh

[REVIEW] Mass Efek Legendary Edition - Mahakarya untuk Trilogi Terbaik

Tidak salah bila BioWare memberi embel-embel Legendary Edition pada judul games ini. Kenyataannya, hal itu memang mengarah pada cerita legendaris dari ke-3 seri khusus Mass Efek. Dalam kata lain, Mass Efek Legendary Edition sebagai remastered dari 3 judul khusus awalnya. Terang, plot atau alur cerita khusus akan persis sama dengan beberapa seri yang sempat dibikin.

Mass Efek sendiri sebagai games yang paling kental dengan dunia sci-fi. Seakan tidak cukup senang dengan luasnya Bumi, pengembang malah membuat keputusan untuk membuat games penjelajahan luar angkasa. Bukan sekedar penjelajahan biasa, gamer dapat menelusuri antargalaksi dan bertandang ke planet-planet asing yang ada. Luar biasanya kembali, ada beberapa ras dan tipe makhluk asing yang ada pada games ini.

Sama seperti pada seri pertama, sebelumnya, kamu bisa menjadi Komandan Shepard yang banyak memiliki pekerjaan untuk sebagai wakil manusia di semesta alam, dimulai dari penyidikan, penerimaan, training, perundingan, dan turut serta aktif dalam Dewan Keamanan Alam Semesta. Nach, apesnya, ada satu figur hebat—sesama komandan keamanan—yang berencana kejahatan di semesta alam.

Tentu saja bukan pekerjaan gampang untuk Shepard untuk lakukan interograsi dan tangkap si antagonis. Barisan Shepard akan bertualang cari panduan di beberapa pelosok semesta alam. Diawali disini, kamu akan turut serta secara intensif dan kemungkinan habiskan mayoritas waktumu untuk menelusuri satu planet ke planet yang lain. Karena sangat masifnya, Mass Efek Legendary Edition dipandang bukan sekedar role-playing games (RPG) biasa.

Oh, ya, hubungan di antara pemain dengan watak-karakter yang lain juga dalam dan luas. Ada banyak tipe ras alien atau makhluk asing yang berada di beragam pelosok semesta alam. Antiknya, semua punyai karakter semasing. Bila kamu menyenangi cerita fiksi ilmiah dan sukai memikirkan bagaimana asyiknya keliling semesta alam, games yang ini akan membuat kamu bergadang sampai lupa waktu.

2. Gameplay masih tetap menyenangkan

[REVIEW] Mass Efek Legendary Edition - Mahakarya untuk Trilogi Terbaik - E-P-C

Walau sedikit ada tambahan dan modifikasi, gameplay pada Mass Efek Legendary Edition teruslah menyenangkan. Kamu masih tetap mengontrol watak Shepard dari belakang punggungnya. Bila pada keadaan battle, watak dapat digerakkan dalam status cover atau berlindung. Pemakaian senjata dan poin serupa dengan seri awalnya.

Yang perlu diakui malah saat kita akan mengontrol kendaraan rover di atas planet. Bila belum terlatih, kita bisa secara mudah merusak rover itu. Tetapi, memakai rover di permukaan planet yang gersang malah dapat memberi kepuasan tertentu.

Pada dasarnya, pemain tetap ditugaskan untuk mengambil, menyelidik, dan menuntaskan visi khusus. Bila ingin bergembira sekalian memperoleh jawaban mengenai semesta alam, kamu dapat menuntaskan visi sambilan yang tidak menjemukan. Oh, ya, membuat senjata, armor, dan kekuatan pribadi harus terkuasai karenanya terkait dengan kekuatan serang atau bertahan.

Pada umumnya, BioWare masih menjaga kualitas gameplay-nya yang lama walau masih tetap sedikit ada modifikasi agar semakin mempermudah. Baik pemain lama atau baru, penyesuaian tak perlu dilaksanakan secara dalam. Dalam kata lain, kamu akan cepat nikmati gameplay yang ada tanpa usaha yang terlalu berlebih.

3. Grafis tidak menakjubkan, tetapi tetap pantas untuk menganakemaskan mata

Mass Effect Legendary Edition review: Best RPG series ever? - E-P-C

Lumrah bila grafis dalam games ini tidak tampil wah ala-ala banyak RPG modern. Masalahnya ini kali, BioWare memang ambil dan mengimplementasikan banyak games awalnya jadi satu judul. Tetapi, tidak berarti grafisnya jelek. Keseluruhannya, grafis pada Mass Efek Legendary Edition masih pantas untuk digolongkan menganakemaskan mata.

10 Pemain dengan Peringkat Paling tinggi di PES 2020, Ronaldo dan Messi Puncaknya !

7 Developer Game yang Sudah “Tutup” dengan Daftar Games Luar Biasa!

Apa lagi, pengembang memang tingkatkan sedikit kualitas visual karena kreasinya ini dimainkan untuk PS4, Xbox One, dan sudah pasti PC. Kenaikan visual akan terlihat di wajah watak, detil lingkungan, dan atmosfer semesta alam dalam beberapa potongan episode. Janganlah lupa, pengembang masukkan beberapa DLC (content tambahan) dengan grafis yang disamakan pada kekuatan konsol Xbox One dan PS4.

4. Audio masih tetap kental dengan topik sci-fi

Mass Effect™ Legendary Edition for PC | Origin

Dari dahulu, BioWare memang tidak pernah tanggung bila memasangkan kualitas audio pada setiap games yang mereka bikin. Umumnya, mereka punyai watak kuat dan konsentrasi dalam soal suara dari tiap-tiap figur. Jika sepintas menyaksikan bagaimana bagusnya pengisi suara dalam Dragon Age: Origins dan Dragon Age: Inquisition, hal yang sama dengan diaplikasikan dalam RPG ini kali.

Kemungkinan awalannya, audio kedengar cukup kaku, khususnya di sejumlah sesion pembicaraan pada Mass Efek 1. Tetapi, kualitas audio semakin lebih baik dan semua dipenuhi oleh topik sci-fi yang paling kental. Langkah mereka meramu pembicaraan di antara ras alien dan bangsa juga manusia dipandang unik dan terlepas. Pembicaraan masih tetap memakai bahasa Inggris dan terkadang ada bahasa khusus dari ras alien yang lain.

Untuk musiknya, aura fiksi ilmiah zaman 1990-an malah semakin terasa dan kedengar seperti kombinasi musikal retro dan tekno kekinian. Tetapi, di sanalah asyiknya. Cerita peperangan luar angkasa tidak terus-terusan harus menerapkan musik metal seperti DOOM Eternal atau audio mendebarkan seperti pada semesta Gears of War.

5. Telah capai sasaran harapan dari fans

Mass Effect: Legendary Edition is getting some huge changes: These are the  highlights - SlashGear

1Ketiadaan mekanisme cover manual dalam games Mass Efek sisi pertama kemungkinan penulis kira sebagai salah satunya kekurangan dalam games ini. Di lain sisi, kenaikan visual (grafis) yang tidak demikian berarti bisa menjadi point untuk jatuhkan games third-person shooter ini. Tetapi, tetap, penulis dibikin kagum dan kerasan mainkan Mass Efek Legendary Edition dalam waktu lama.

Satu kembali, diperlukan waktu sekitaran 130 jam bila ingin mainkan semua content dalam games ini, terhitung beberapa DLC-nya. Kamu dapat memainkan dengan mencicil sepanjang beberapa minggu, bahkan juga beberapa bulan. Alur ceritanya lumayan gampang dituruti dan linear dari sejak awalnya sampai akhir. So, apa Mass Efek Legendary Edition dapat menjadi koleksi bernilai untuk fans sci-fi?

Untuk penulis, jawabnya ya. Games ini sudah menjadi satu diantara kreasi terbaik BioWare yang menyusun cerita legendaris Mass Efek. Keseluruhannya, penulis memberi score 4,5/5. Bagaimana denganmu? Apa kamu suka juga dengan games bertopik fiksi ilmiah?

Baca Juga : [REVIEW] Aliens: Fireteam Elite – Nostalgia Tanpa Kualitas Tinggi

Categories
Review Game

[REVIEW] Aliens: Fireteam Elite – Nostalgia Tanpa Kualitas Tinggi

E-P-C – Pada 24 Agustus 2021 lalu, Steam sudah jual games dengan judul Aliens: Fireteam Elite pada harga Rp319 ribu dan Rp559 ribu untuk versus deluxe edition. Untuk fans games atau film Alien, pasti banyak pada mereka langsung memikirkan masifnya gempuran Xenomorphs sang makhluk asing yang beringas dan tanpa ampun.

Nach, narasi tipikal dihidangkan dalam games terbaru ini kali. Sebagai sebuah team, kamu harus lakukan pekerjaan atau visi beresiko di tengah-tengah garangnya makhluk asing. Games garapan Cold Iron Studios itu telah jalan dengan Unreal Engine 4 yang—seharusnya—di atas kertas sanggup mengangkat kualitas visual.

Apa Aliens: Fireteam Elite pantas untuk jadi koleksi? Saat sebelum beli games ini, kamu dapat membaca ulasan komplet di bawah ini. Oh, ya, ulasan ini kali memiliki kandungan spoiler, ya!

1. Berat narasi yang dapat dimengerti

[REVIEW] Aliens: Fireteam Elite - Nostalgia Tanpa Kualitas Tinggi

Harus dianggap, saat sebelum peluncurannya, Aliens: Fireteam Elite memperoleh banyak asumsi miring dari beberapa fans di penjuru dunia, terhitung penulis. Bukan tanpa ada alasan, penulis sendiri cukup trauma dengan games awalnya, yaitu Aliens: Colonial Marines yang di-launching pada 2013 kemarin. Walau berlainan developer, tetap rasa skeptis itu tetap membekas.

Nach, ternyata, plot atau alur cerita games Alien ini kali cukup memikat buat dituruti, lho. Kemungkinan belum capai tingkat yang sangatlah baik seperti DOOM Eternal. Tetapi, minimal Aliens: Fireteam Elite mampu meramu alur cerita yang lebih memiliki bobot daripada saudara-saudaranya di periode kemarin. Pada dasarnya, kita akan hadapi beberapa kumpulan Xenomorphs yang menyebalkan.

Background dari narasi khusus ada di tahun 2202 ketika berada sebuah kasus misteri yang terjadi di Stasiun Katanga. Anehnya, awalnya stasiun itu telah dipandang remuk dan diprediksikan tidak lagi ada kehidupan di situ. Tetapi, USS Endeavour sebagai yang menerima signal genting masih tetap mengirim pasukan khusus untuk lakukan visi penyidikan.

Sayang, aura menakutkan yang didatangkan masih demikian dangkal. Di menit awalnya saja, pemain harusnya berjibaku dengan beberapa puluh Xenomorphs yang lumayan gampang untuk dikalahkan. Jarang-jarang ada alien yang pelan-pelan dan serang kita secara tiba-tiba. Malah yang ada justru segerombolan alien di depan kita yang seakan menyerahkan diri untuk dihajar.

Tetapi, pada umumnya, alur cerita telah dibikin lebih bagus daripada perintisnya. Teknisnya, berharap dimengerti jika sebuah plot untuk games kooperatif jenis ini memanglah tidak dapat dibikin demikian dalam. Kita cuman ditugaskan memberantas lawan dan meneruskan visi dari 1 titik di titik seterusnya.

2. Permainkan bersama teman-temanmu

[REVIEW] Aliens: Fireteam Elite - Nostalgia Tanpa Kualitas Tinggi - Softhard

Pertama kalinya mainkan Aliens: Fireteam Elite kemarin, penulis sempat menyamai games ini dengan Left 4 Dead, sebuah games multiplayer yang sama berusaha menjadi penyintas. Perbedaannya, dalam games Alien ini, kita akan diberi peluang saat lakukan penyesuaian watak pada awal games.

Seterusnya, 3 orang, terhitung watak khusus, pasukan elite akan ditugaskan lakukan visi untuk menyelidik, menghancurkan, dan berperang menantang Xenomorphs yang banyaknya tidak kurang lebih itu. Gameplay jenis ini sangat terasa kental dan linear dengan beberapa game sama.

Gerakan watak bisa juga kita mengatur dengan lumayan baik. Satu yang sayang, AI teman-kawanmu sangat terasa bodoh pada saat kamu mainkan model singgel-player. Saat enak-enak sedang mengincar kepala lawan, secara tiba-tiba, team kita ada di depan dan diam di situ. Peristiwa ini bukan hanya sekali, tetapi berulang-kali hingga membuat penulis cukup frustrasi.

Jalan keluarnya cuman dua. Pertama, bermainlah secara multiplayer. Dengan ini, games bertambah hebat karena kamu dapat mengikutsertakan teman-temanmu dalam suatu team. Ke-2 , bila bermain sendirian, mengatur status watak khusus untuk ada di baris paling depan. Dalam kata lain, kamu jadi pimpinan team sekalian tameng untuk pasukanmu.

3. Tidak boleh permainkan di PS5 dan Xbox Seri X

Aliens: Fireteam Elite - Softhard

Bukan tujuan hati untuk menghasut beberapa gamer. Mengapa penulis merekomendasikan mainkan games ini di PC dan PS4? Itu karena kualitas grafis dari Aliens: Fireteam Elite termasuk standard, bahkan juga ketinggal bila dibanding dengan beberapa game modern yang lain. Games garapan Cold Iron Studios ini dapat digerakkan di PC dengan RAM 8 GB dan cuman memerlukan sekitaran 30 GB penyimpanan.

[REVIEW] Nioh 2 – The Complete Edition – Menimbulkan Aura Gelap di Jaman Sengoku

10 Pemain dengan Peringkat Paling tinggi di PES 2020, Ronaldo dan Messi Puncaknya !

Bila dimainkan di konsol PS5 atau Xbox Seri X, grafis yang diperlihatkan akan condong serupa. Seandainyapun ada kenaikan, kemungkinan itu tidak berapa. Deskripsi Xenomorphs dapat diperlihatkan dengan cukup bagus dengan semua detilnya. Tetapi, dalam beberapa kasus, pijakkan-tumpukan segerombolan alien terkadang seperti terlihat grafis zaman 2015-an.

Bagaimana bila dibanding dengan Aliens: Colonial Marines? Terang cukup berbeda jauh. Bagaimana juga, grafis Aliens: Fireteam Elite yang berjalan pada Unreal Engine 4 masih lumayan membesarkan hati walau tidak seheboh beberapa game luar angkasa yang lain, seperti DOOM Eternal, Star Wars: Squadrons, dan kemungkinan Halo Infinite yang gagasan launching Desember 2021 kedepan.

4. Kualitas audio yang umum saja

Aliens: Fireteam Elite Review - IGN

Kemungkinan ini relatif, tapi penulis tidak memperoleh pengalaman audio yang mengagumkan sepanjang mainkan games ini. Entahlah itu memakai earphone atau mungkin tidak, audio yang dibuat dirasakan garing dan biasa-biasa saja. Aura horor dan mendebarkan pun tidak didapat karena musiknya dipandang kurang memberikan dukungan.

Belum juga bila harus dengarkan audio dari pengisi suaranya, masing-masing watak akan kedengar datar dan kurang menghayati sesuai keadaan yang ada. Misalkan, di saat gerombolan Xenomorphs garang serang secara beringas, suara dari watak team dan komandan di pusat kontrol akan kedengar biasa-biasa saja seakan tidak ada apa-apa.

Maka tidak boleh berharap audio dalam Aliens: Fireteam Elite akan sedahsyat Gears 5 yang telah di-launching pada 2019 lalu untuk PC dan Xbox. Walau tidak dikelompokkan buruk-buruk sangat, masih tetap benar-benar sayang bila lingkungan yang dark dan menakutkan cuman disertai oleh audio dan suara watak yang datar.

5. Dapat bangunkan memory fans

Aliens: Fireteam Elite Tips and Tricks Survival Guide | Aliens: Fireteam  Elite

Satu perihal yang jelas dirasakan oleh penulis, sepanjang mainkan games ini, penulis sudah rasakan kenangan yang cukup intensif mengenai cerita-kisah legendaris alien Xenomorphs di periode kemarin. Sekitaran 3 atau 4 jam permainan, penulis sudah dibikin lupakan kekurangan tehnis di situ sini.

Kamu terus akan jalan telusuri lorong-lorong stasiun luar angkasa yang gelap tanpa perduli dengan jeleknya audio dan AI dari pasukanmu. Tetapi, bila harus jujur, permasalahan grafis, audio, dan AI ialah minus paling besar dalam games ini. Menghidupkan memory masa lampau terkadang dirasakan kurang cukup kuat untuk games modern untuk merampas hati fans.

Well, waralaba besar Alien kemungkinan telah terlanjur dikenali lewat beberapa karya filmnya yang fantastis dan legendaris. Dalam masalah ini, seri games yang dibikin sebenarnya cuman dipandang seperti pendamping minimalis untuk banyak fans di dunia. Pasti tidak gampang untuk sutradara untuk membikin narasi games yang didasari pada waralaba bernama keren.

Keseluruhannya, score akhir yang dapat diberi oleh penulis ialah 3/5. Untuk penulis, kenangan semakin lebih prima pada saat disertai dengan grafis, alur cerita, dan audio yang serupa baiknya.

Baca Juga : 7 Developer Game yang Sudah “Tutup” dengan Daftar Games Luar Biasa!

 

Categories
News

7 Developer Game yang Sudah “Tutup” dengan Daftar Games Luar Biasa!

E-P-C – Industri video games dipenuhi oleh inisiator dan developer games luar biasa. Tiap tahunnya, gamer dicecar dengan beberapa games mengagumkan dari beragam developer di penjuru dunia. Beberapa bahkan juga sukses membuat franchise terkenal yang pada akhirannya, jadi icon dari video games tersebut.

Sayang, dari demikian jumlahnya developer, ada yang tidak berhasil dan usai ditutup. Yang membuat lebih memilukan kembali ialah banyak salah satunya sebagai developer slot online terpercaya kelas A yang kualitas beberapa gamenya tak perlu disangsikan kembali. Berikut 7 developer yang sudah tutup dengan daftar games mengagumkan.

1. Neversoft

Neversoft sebagai developer punya Activision yang tehnis tidak ditutup, tetapi namanya tak lagi aktif. Neversoft menolong peningkatan beragam games Activision seperti Guitar Hero dan kerjakan games Spider-Man pertama kali yang di-launching untuk PlayStation.

Disamping itu, Neversoft ikut juga mengambil sisi dalam pembuatan franchise games Tony Hawk Pro Skater yang terkenal. Dibangun di tahun 1995, Neversoft “tutup pintu” di tahun 2013. Neversoft tergabung dengan Infinity Ward untuk peningkatan Call Of Duty: Ghosts, awalnya pada akhirnya ditutup.

2. Pandemi Studios

7 Developer Game yang Sudah "Tutup" dengan Daftar Games Luar Biasa! - E-P-C

Pandemi Studios dikenali dengan salah satunya games Star Wars terbaik yakni Star Wars Battlefront. Developer yang berdiri di tahun 1998 ini, mempunyai dua studio yang masing-masing berada di Los Angeles, Amerika Serikat dan Brisbane, Australia.

Destroy All Humans! sebagai games terkenal yang lain dikerjakan oleh Pandemi. Di tahun 2008, Pandemi dibeli oleh Elektronik Arts alias EA. Tahun selanjutnya, EA memotong lebih dari seribu karyawan dan PHK massal itu memengaruhi Pandemi, hingga kemudian ditutup selang beberapa saat.

3. Ensemble Studios

Ensemble Studios - E-P-C

Ensembles Studios mempunyai beberapa games real-time taktik atau RTS mengagumkan seperti Halo Wars, Age Of Empire dan Star Wars Galactic Battlegrounds. Beberapa bahkan juga bisa dimainkan sampai sekarang ini, yang mana itu mengisyaratkan jika Ensemble masih tersisa beberapa peninggalannya di industri.

PlayStation dan Kumpulan Konsol Games yang Digemari pada Tahun 90-an

[REVIEW] Nioh 2 – The Complete Edition – Menimbulkan Aura Gelap di Jaman Sengoku

Microsoft mengakuisisi Ensemble di tahun 2001, sebagai argumen khusus kenapa Ensemble dapat memperoleh lisensi untuk kerjakan games RTS dari semesta Halo. Di tahun 2009, tidak lama sesudah Halo Wars usai diperkembangkan, Ensemble pada akhirnya ditutup.

4. THQ

THQ - E-P-C

THQ kemungkinan jadi developer dengan daftar games paling besar di daftar ini. Developer yang dibangun oleh Jack Friedman di tahun 1990 ini, meningkatkan dan mengeluarkan banyak games dari tahun 1990 sampai 2013. Portofolio THQ dipenuhi oleh beragam games bersertifikasi Nickelodeon seperti Drake And Josh, SpongeBob SquarePants dan Rugrats.

Beberapa games THQ terpopuler diantaranya Darksiders, Homefront dan Saints Row. THQ “menjumpai akhir” saat tidak sanggup bayar utang ke Wells Fargo. Di tahun 2011, THQ umumkan kemunduran dan sah tutup di tahun 2013.

5. Lionhead Studios

5 Studio Gim Kenamaan yang Gulung Tikar - Tekno Liputan6.com

Lionhead Studios – yang serupa seperti Ensemble Studios, dipunyai oleh Microsoft, dikenali dengan franchise fantasi RPG-nya, Fable. Microsoft beli Lionhead di tahun 2006, karena saat itu, Lionhead alami permasalahan keuangan.

Sesudah dibeli, banyak pegawai yang tinggalkan Lionhead untuk meningkatkan games sendiri, dengan beberapa salah satunya membangun Media Molecule dan 22Cans. Games paling akhir yang Lionhead lakukan ialah Fable Legends, yang pada akhirannya diurungkan karena di tahun 2016, Microsoft umumkan jika Lionhead ditutup.

6. Telltale Game

Telltale Games returns as a new studio – CentrumHer.eu

Telltale populer di kelompok gamer dengan beragam games action-adventure episodik-nya. Beberapa yang terkenal ialah The Walking Dead, Games Of Thrones dan Batman. Telltale sendiri dibangun di tahun 2005 oleh bekas pengembang di LucasArts.

Di tahun 2018, Telltale umumkan akan ditutup sesudah team pengembang usai kerjakan musim paling akhir untuk games The Walking Dead. Untungnya, Telltale “hidup kembali” sesudah LCG Pertunjukan mengakuisisi asset dari developer yang berbasiskan di California itu. Sekarang, Telltale sah bangun tetapi di bawah instruksi pengembang baru.

7. Visceral Game

EA Shuts Down Visceral Games

EA tutup Visceral Game di tahun 2014 sesudah mereka tidak senang dengan games Star Wars yang Visceral buat. Visceral sendiri dikenali dengan franchise Dead Ruang yang paling sukses. Dikenali sebagai EA Redwood, Visceral ganti nama sesudah kesuksesan Dead Ruang pertama.

Saat sebelum Dead Ruang, Visceral kerjakan beberapa games seperti PGA Tur Tiger Woods dan franchise The Sims. Battlefield Hardline menjadi salah satunya games yang sempat diperkembangkan oleh Visceral. Games paling akhir yang Visceral lakukan ialah “Proyek Ragtag”, yang dijumpai sebagai games Star Wars singgel-player.

Itu barusan sedikit pembahasan sekalian informasi menarik berkenaan developer yang sudah tutup dengan daftar games mengagumkan. Pernah mainkan games garapan beberapa developer luar biasa di atas?

Baca Juga : 10 Pemain dengan Peringkat Paling tinggi di PES 2020, Ronaldo dan Messi Puncaknya !

 

Categories
News

10 Pemain dengan Peringkat Paling tinggi di PES 2020, Ronaldo dan Messi Puncaknya !

E-P-C – Pro Evolution Soccer atau PES ialah games bertopik sepak bola keluaran Konami yang telah dikenali beberapa orang. Supaya kamu mempunyai kesempatan besar untuk memenangi laga dalam games ini, tentunya kamu dapat mainkan pemain dengan peringkat tinggi.

Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi sebagai pemain terbaik di dunia sekarang ini sudah pasti patut mempunyai peringkat paling tinggi di PES 2020. Tidak cuman mereka, beberapa pemain lain tidak kalah hebat dengan mempunyai peringkat tinggi. Siapa mereka? Berikut daftarnya.

1. Mulai menua, Cristiano Ronaldo masih jadi pemain terbaik di dunia, dia mempunyai peringkat 94 di PES 2020

2. Jadi pesaing kekal Ronaldo, Lionel Messi tidak ingin kalah dari mempunyai peringkat yang serupa yakni 94 di PES 2020

10 Pemain dengan Peringkat Paling tinggi di PES 2020, Ronaldo dan Messi Puncaknya !

3. Dikenali dengan kemampuan olah bola yang oke, Neymar Junior mempunyai peringkat tinggi di PES 2020 yakni 92

Neymar - E-P-C

4. Tampil bagus sepanjang mengenakan seragam Chelsea, pemain baru Real Madrid, Eden Hazard, mempunyai peringkat 91 di PES 2020

Eden Hazard - E-P-C

5. Penyerang unggulan Manchester City, Sergio Aguero, mempunyai peringkat 91 di PES 2020

Sergio Aguero Tak Berani Ambil Nomor 10 Barcelona, Milik Lionel Messi -  Bola Tempo.co

[REVIEW] Marvel’s Avengers: War for Wakanda – Keren Tanpa Komponen Baru

PlayStation dan Kumpulan Konsol Games yang Digemari pada Tahun 90-an

6. Jadi rekanan Messi di Barcelona, peringkat Luis Suarez di PES 2020 sebesar 91

Luis Suarez: Dicampakkan Barcelona, Jadi Juara di Atletico

7. Virgil Van Dijk jadi bek dengan peringkat paling tinggi di PES 2020, dia mempunyai peringkat 91

Klopp: Untung Liverpool Cuma Harus Perpanjang Kontrak Van Dijk

8. Menjadi satu diantara bek kuat di dunia, Sergio Ramos mempunyai peringkat 90 di PES 2020

Real Madrid Disarankan Pertahankan Sergio Ramos : Okezone Bola

9. Bek yang lain mempunyai peringkat 90 di PES 2020 yakni Gerard Pique

Bek Barcelona Gerard Pique terancam absen tiga pekan karena cedera - ANTARA  News

10. Tampil stabil bersama Bayern Munchen, Robert Lewandowski mempunyai peringkat 90 di PES 2020

Manchester City Pantau Robert Lewandowski, Alternatif Pengganti Sergio  Aguero - Kabar Banten

Tidak cuman 10 pemain itu, ada banyak pemain yang lain mempunyai peringkat 90 di PES 2020. Mereka ialah David De Gea, Antonie Griezmann, Jan Oblak, Kevin de Bruyne, Harry Kane, Mohamed Salah, Alisson Becker dan Kylian Mbappe. Dari beberapa pemain dengan peringkat paling tinggi di PES 2020, siapakah yang jadi unggulanmu?

Baca Juga : [REVIEW] Nioh 2 – The Complete Edition – Menimbulkan Aura Gelap di Jaman Sengoku

Categories
Review Game

[REVIEW] Nioh 2 – The Complete Edition – Menimbulkan Aura Gelap di Jaman Sengoku

E-P-C – Nioh 2 – The Complete Edition sebagai games garapan Koei Tecmo yang meliputi semua content dan sisi dari Nioh 2 ditambahkan dengan 3 pengembangan DLC, yaitu The Tengu’s Disciple, Darkness in the Capital, dan The First Samurai. Kreasi sama dari developer Tim Ninja ini dikenali sebagai games samurai yang bertopik dark dan sarat dengan mistik.

Di-launching pada 5 Februari 2021, Nioh 2 – The Complete Edition masih tetap menyuguhkan cerita samurai kuat dengan bebatan grafis yang mempesona. Nach, bagaimana penilaian dari games yang ini? Yok, kita baca pembahasan secara singkat berikut ini.

1. Prekuel epik di jaman Sengoku

[REVIEW] Nioh 2 - The Complete Edition - Menimbulkan Aura Gelap di Jaman Sengoku

Nioh 2 – The Complete Edition bercerita prekuel atau cerita saat sebelum games Nioh sisi pertama. Background pada games ini diambil dari cerita kuno di jaman Sengoku, persisnya di akhir 1500-an. Sudah pasti alur cerita dalam games sebagai cerita fiktif dan disembunyikan beberapa cerita berkenaan riwayat Jepang di jaman keemasan samurai era ke-16.

Kamu akan mainkan figur protagonis yang hendak kamu penyesuaian lebih dulu pada awal narasi. Semenjak awalnya, watak yang kita permainkan telah terhitung ke kelompok manusia yang berkekuatan khusus, terhitung kuasai komponen Yoka, semacam makhluk astral dari Yokai Realm. Penjelajahan di jaman Sengoku Jepang akan membawamu pada beberapa tokoh samurai besar di periode kemarin.

Kamu akan turut serta dengan barisan pemburu iblis dan beberapa faksi yang lain yang berperan dalam keruntuhan salah satunya panglima perang legendaris Jepang. Satu perihal yang memikat ialah keterkaitanmu secara dalam di beberapa cerita yang sempat terjadi di jaman Sengoku. Tentu saja, semua diwujudkan dengan perjalanan hidup yang berisi beberapa hal fiktif dan mistik.

Oh, ya, semenjak awalnya diperkenalkan, pengembang telah mengatakan jika ada beberapa nama besar pimpinan Jepang di era ke-16 yang akan diperlihatkan. Benar saja, watak-karakter legendaris jenis Oda Nobunaga, Takenaka Hanbei, Akechi Mitsuhide, Azai Nagamasa, Hattori Hanzo, dan Tadakatsu Honda bisa diperlihatkan dengan epik oleh Koei Tecmo.

2. Mekanisme permainan yang agresif, tapi masih tetap berteman

[REVIEW] Nioh 2 - The Complete Edition - Menimbulkan Aura Gelap di Jaman Sengoku - E-P-C

Untuk penulis, mainkan Nioh 2 – The Complete Edition lewat basis PC semakin terasa cepat dan adaptive. Tujuannya, walau gameplay berasa kompleks dan agresif, personalitasnya masih gampang untuk diadaptasi oleh beberapa pemain yang baru mainkan games Nioh. Ya, seperti seri pertama kalinya, watak pertempuran yang ditemui oleh pemain akan berasa warna dengan beragam jenis macam gempuran.

Selainnya tiga tipe combat stance, pemain harus juga kuasai mekanisme Flux. Feature ini sebenarnya cukuplah sederhana, yaitu kembalikan beberapa stamina langsung di saat berperang dengan lawan. Tetapi, bila tidak menguasainya secara baik, kamu akan kesusahan bertanding dengan beberapa musuh yang mempunyai Ki (stamina) yang tinggi. Oh, ya, ada banyak tambahan senjata baru walau kehadiran senjata-senjata lama masih tetap dipertahankan.

Nach, salah satunya feature paling unik dalam games ini ialah kekuatan watak khusus dalam berbeda bentuk jadi iblis Yokai . Maka, dapat secara cepat kita pahami jika watak yang kita permainkan memang bukan manusia biasa. Bila sukai dengan style pertempuran yang cepat, keras, dan hajar kromo, feature Yokai ini dapat kamu gunakan untuk menyeimbangi lawan yang sama masuk ke kelompok iblis.

Terang Koei Tecmo ingin membandingkan Nioh dan Nioh 2 – The Complete Edition pada segi gameplay-nya. Ini kali, dengan adanya banyak lawan yang sangat membahayakan, mereka sukses membuat mekanisme permainan yang agresif, beringas, dan cepat. Tetapi, semua bisa digerakkan secara ramah dan lumayan gampang untuk diadaptasi.

3. Kualitas visual terang mempesona

Nioh 2 -  E-P-C

Mengagumkan dan mempesona, berikut kesan-kesan pertama penulis di saat mainkan Nioh 2 – The Complete Edition lewat PC. Selainnya PC, games ini di-launching untuk PS4 dan PS5. Adapun, kualitas grafis pada versus PS5-nya kelihatan lebih tajam daripada PS4. Untuk masalah grafis, Tim Ninja lewat Koei Tecmo memang tidak pernah bermain-main dalam tampilkan watak yang menganakemaskan mata.

Design manusia dan iblis dapat dilukiskan dengan inovatif dan detil. Belum juga beberapa episode kece yang terkait dengan pertempuran barbar di dunia Yokai, tentunya membuat kita semakin agresif dalam mainkan kreasi yang dicatat oleh Ryohei Hayashi ini. Kehadiran beragam jenis lawan dari kelompok iblis akan lebih memperkuat aura yang dark dan gelap.

[REVIEW] LOST in Blue (Global) – Jadilah Penyintas yang Inovatif

[REVIEW] Marvel’s Avengers: War for Wakanda – Keren Tanpa Komponen Baru

Tetapi, di luar dunia iblis, penampilan semua watak manusianya diangkat secara bagus. Kamu akan menyaksikan bagaimana detil dan rapinya pelukisan beberapa tokoh manusia yang memakai armor, senjata, dan peralatan tempur yang lain. Bila saja kedatangan beberapa Yokai dapat dikesampingkan, kamu malah akan terlarut pada beberapa cerita samurai classic dengan semua jenis plot politiknya.

Pada umumnya, kualitas visual pada Nioh 2 – The Complete Edition dapat disamakan dengan games kelas tinggi yang lain. Memainkan sepanjang beberapa jam di tengah-tengah penampilan kelas tinggi malah dapat beresiko hanya karena membuat kita lupa waktu. So, jika ingin tahu dengan style visualnya, kamu dapat membeli di Steam dengan harga Rp699 ribu.

4. Kualitas audionya juga tidak kaleng-kaleng

Mengobrol dengan Team Ninja tentang Nioh 2 - E-P-C

Sebenarnya, Tim Ninja dan Koei Tecmo bukan terhitung developer yang menyukai dengan audio berlebihan seperti pengembang banyak games barat, jenis Activision, BioWare, EA Sport, atau Epic Game. Yap, dapat disebutkan jika Koei Tecmo sama dengan audio ciri khas Jepang yang enteng, imut, dan bertopik cerah. Bahkan juga, mereka telah sama dengan audio jenis itu semenjak 25 tahun kemarin.

Lihat saja banyak gaung mereka, seperti Dead or Alive (1996), Ninja Gaiden, dan Fire Emblem Warriors, semua memakai tipe audio yang lumayan ringan, cerah, dan benar-benar kental dengan games ciri khas Jepang. Nach, bukannya memakai langkah yang serupa, Koei Tecmo malah meningkatkan games dengan audio yang berkesan gelap, berat, dan dewasa.

Beberapa sisi gelap dari jaman Sengoku di Jepang dapat ditranslate dengan baik sekali lewat audio yang tentu saja tidak kaleng-kaleng. Untuk menunjukkan kesungguhannya, faksi developer menggamit Yugo Kanno, seorang komposer dan pemusik asal Jepang yang berhasil bikin beragam jenis audio untuk anime dan seri tv. Itu penyebabnya, mainkan games ini dengan earphone berkualitas ialah jalan terbaik untuk nikmati aura mistik dan gelap di dunia Yokai.

5. Salah satunya kreasi terbaik yang harus dikoleksi

Nioh 2: Tips - E-P-C

Untuk penulis, Nioh 2 – The Complete Edition ialah kreasi terbaik yang sempat dibikin oleh Tim Ninja, bahkan juga melewati seri Nioh yang pertama. Alur cerita epik yang gelap, jumlahnya beberapa tokoh legendaris Jepang yang didatangkan, gameplay agresif, grafis keren, dan audio menakjubkan ialah jejeran bukti jika games ini pantas untuk memperoleh animo lebih.

Bila mempunyai konsol PS5, kamu seharusnya tidak melewati judul kece yang ini. Sudah tentu grafisnya lebih tajam dan detil. Tentu saja ini didukung dengan kualitas 3D Audio punya Sony. Oh, ya, untuk gamer yang pemula dengan mekanisme permainan action role-playing games, kamu tidak perlu cemas karena Nioh 2 – The Complete Edition masih lumayan berteman buat dimainkan.

So, penulis memberi score 4,5/5 untuk games mengenai pemburu iblis ini. Kamu dapat memainkan di konsol PS4, PS5, dan basis PC. Sayang, kemungkinan pengembang tidak melaunching seri Nioh ke konsol Xbox Seri X. Walau sebenarnya, banyak gamer Xbox yang telah jatuh cinta dengan games hack and slash ini.

Baca Juga : PlayStation dan Kumpulan Konsol Games yang Digemari pada Tahun 90-an

Categories
News

PlayStation dan Kumpulan Konsol Games yang Digemari pada Tahun 90-an

E-P-C – Konsol games mulai digemari di tahun 90-an. Konsol tahun 90-an sudah menua, tetapi tidak dengan kenangannya. Bahkan juga, konsol games tahun itu bisa saja jarang diketemukan kembali. Kalaulah ada, kemungkinan, akan dibandrol pada harga yang tinggi.

Berikut lima konsol games yang paling terkenal di tahun 90-an. Mungkin kamu pernah mainkan satu diantaranya. Yok, baca!

1. Virtual Boy (1995)

Konsol Virtual Boy ialah produk keluaran Nintendo. Cuman ada 22 games yang dibikin untuk mekanisme ini, terhitung games berdasar film Waterworld (1995) dan Mario’s Tennis.

Virtual Boy mainkan games 32-bit dan sanggup tampilkan gambar tiga dimensi stereoskopis dalam warna merah dan hitam.

2. Sega Saturn (1994)

PlayStation dan Kumpulan Konsol Games yang Digemari pada Tahun 90-an - E-P-C

Di-launching satu tahun sesudah Sega Genesis, Sega Saturn menjadi satu diantara konsol yang paling disepelekan dalam perincian ini. Untuk beberapa orang, Sega Saturn masih mempunyai tempat di hatinya.

3. Super Nintendo (1990)

List of Super Nintendo - E-P-C

Games seperti Super Mario World, Super Metroid, Donkey Kong Country, Donkey Kong Country 2: Diddy’s Kong Quest, Earthbound, Star Fox, dan Super Castlevania IV ialah argumen kenapa Super Nintendo mencolok dari konsol lain pada zaman yang serupa.

5 Games Dengan Dunia Terluas, Ada Yang Sampai Keluar Angkasa!

[REVIEW] LOST in Blue (Global) – Jadilah Penyintas yang Inovatif

Super Nintendo ialah kenaikan besar dari NES. Lumayan banyak orang yang mempunyai Super Nintendo pada keadaan bisa dimainkan.

4. Nintendo 64 (1996)

Nintendo 64 - E-P-C

Ketertarikan mengagumkan dari fans konsol jadikan Nintendo 64 sebagai hebat tier pada jamannya. Orang bersama-sama beli konsol tipe ini.

Nintendo 64 ialah basis untuk games seperti GoldenEye 007, Super Mario 64, The Legend of Zelda: Ocarina of Time, Donkey Kong 64, Mario Kart 64, Banjo Kazooie, Conker’s Bad Fur Day, Pokémon Snap, dan ada banyak kembali. Dengan memakai paket pengembangan, kamu bisa tingkatkan RAM N64 dari 4 MB jadi 8 MB.

5. Sony Playstation (1994)

Playstation - E-P-C

Tak perlu disangkal kembali, Sony Playstation atau yang kerap kita sebutkan PS1 ialah konsol terbaik pada 90-an. Sony sanggup manfaatkan pasar games dengan meningkatkan konsol yang melebihi kompetitornya dalam soal periferal dan games berkualitas.

Controller DualShock PS1 ialah penemuan revolusioner sebagai inpirasi untuk controller angkatan seterusnya. PS1 ialah representasi terbaik dari games 90-an. Pada konsol ini, kamu bisa mainkan beberapa game terkenal, seperti Metal Gear Kompak, Parappa the Rapper, Castlevania: Symphony of the Night, Resident Evil 2, dan ada banyak kembali.

Itu lima konsol games yang digemari di tahun 90-an. Konsol-konsol kuno berikut sebagai ide dari angkatan konsol yang dapat kita cicipi saat ini . Maka, konsol games mana yang pernah kamu permainkan?

Baca Juga : [REVIEW] Marvel’s Avengers: War for Wakanda – Keren Tanpa Komponen Baru

Categories
Review Game

[REVIEW] Marvel’s Avengers: War for Wakanda – Keren Tanpa Komponen Baru

E-P-C – Dalam Semesta Marvel, keterikatan antartokoh yang satu sama watak yang lain menjadi sebuah ramuan tertentu yang tentu saja disikapi positif. Pahlawan super, jenis Iron Man, Hulk, Thor, Captain America, Black Widow, Hawkeye, Spider-Man, dan Black Panther, mempunyai narasi yang sama-sama terkait untuk maksud yang serupa, yaitu membuat perlindungan dunia dari tangan antagonis.

Nach, alur cerita yang sama dipakai Crystal Dynamics dalam meramu dan meningkatkan games dengan judul Marvel’s Avengers. Tidak bermain-main, Square Enix jadi perusahaan yang melaunching langsung games menarik itu pada 4 September 2020 untuk PC, PS4, dan Xbox One. Hasilnya bagaimana? Lumayan, walau ada beberapa kritikan di mana saja.

Kritikan tidak lalu membuat pengembang jadi kurang percaya diri dalam meningkatkan games pengembangannya. Bisa dibuktikan, pada 17 Agustus 2021 lalu, Square Enix kembali melaunching pengembangan dengan judul Marvel’s Avengers: War for Wakanda yang pasti fokus pada figur Black Panther dalam selamatkan dunia Wakanda.

Hasilnya bagaimana? Kita turuti saja ulasan komplet di bawah ini. Yok, dibaca!

Dalam Semesta Marvel, keterikatan antartokoh yang satu sama watak yang lain menjadi sebuah ramuan tertentu yang tentu saja disikapi positif. Pahlawan super, jenis Iron Man, Hulk, Thor, Captain America, Black Widow, Hawkeye, Spider-Man, dan Black Panther, mempunyai narasi yang sama-sama terkait untuk maksud yang serupa, yaitu membuat perlindungan dunia dari tangan antagonis.

Nach, alur cerita yang sama dipakai Crystal Dynamics dalam meramu dan meningkatkan games dengan judul Marvel’s Avengers. Tidak bermain-main, Square Enix jadi perusahaan yang melaunching langsung games menarik itu pada 4 September 2020 untuk PC, PS4, dan Xbox One. Hasilnya bagaimana? Lumayan, walau ada beberapa kritikan di mana saja.

Kritikan tidak lalu membuat pengembang jadi kurang percaya diri dalam meningkatkan games pengembangannya. Bisa dibuktikan, pada 17 Agustus 2021 lalu, Square Enix kembali melaunching pengembangan dengan judul Marvel’s Avengers: War for Wakanda yang pasti fokus pada figur Black Panther dalam selamatkan dunia Wakanda.

Hasilnya bagaimana? Kita turuti saja ulasan komplet di bawah ini. Yok, dibaca!

1. Penjelajahan T’challa yang seperti narasi aslinya

[REVIEW] Marvel's Avengers: War for Wakanda - Keren Tanpa Komponen Baru

Well, bila sudah baca komik dan melihat filmnya, kamu akan mendapati alur cerita linear yang sama pada games ini kali. Black Panther akan bekerja untuk selamatkan Wakanda dari lawan bebuyutan namanya Ulysses Claw atau Klaw yang hendak merampas vibranium untuk kuasai dunia. Crossbone ada sebagai salah satunya penjahat dalam pengembangan ini kali.

Perbedaannya dengan Semesta Marvel di komik dan film ada di kemampuan watak yang ditampilkan oleh Klaw. Yap, Klaw versus games terlihat semakin kuat, gesit, curang, dan mahir dibanding versus Klaw pada filmnya. Tidak itu saja, macam pasukan lawan kelihatan benar-benar bermacam bila dibanding langsung dengan Marvel’s Avengers awalnya.

Seperti jalankan penjelajahan T’challa pada film, kita akan rasakan bagaimana games ini dibikin. Untuk kamu yang telah pakem dan fanatik dengan Black Panther versus MCU, kemungkinan games ini bakal menjadi koleksi yang memiliki sifat harus. Tetapi, jika kamu type gamer yang baru masuk ke dunia Marvel di zaman konsol next gen terkini, cerita Black Panther ini kemungkinan cuma bisa menjadi pendamping.

Pada umumnya, memanglah tidak ada komponen baru untuk membikin alur cerita jadi lebih dalam kembali. Jalur lumayan gampang diterka–karena penulis juga melihat versus filmnya. Lantas, kehadiran pasukan punya Klaw dirasakan tidak rata. Di satu segi, kualitas mereka seperti noob yang paling gampang dihajar. Di lain sisi, mereka dapat seperti pemain pro dengan health bar yang tebal.

2. Visi repetitif yang dapat membuat jemu

[REVIEW] Marvel's Avengers: War for Wakanda - Keren Tanpa Komponen Baru - E-P-C

Untuk masalah gameplay, bermacam games Marvel umumnya akan sangat terasa menarik dan gampang dimainkan tanpa penyesuaian terlampau dalam, begitupun dengan pengembangan yang ini. Proses pergerakan setiap personalitasnya dirasakan cukup membahagiakan. Jika bisa disebut, gameplay kemungkinan menjadi salah satunya kelebihan bila dibanding dengan plot atau alur ceritanya.

Kamu akan gerakkan Black Panther yang gesit, kuat, dan tentu saja sarat dengan episode akrobatik. Hal ini telah dikenali dalam beberapa games Marvel yang lain. Tetapi, khusus untuk Black Panther, pergerakan dalam serang akan kamu alami seperti beberapa gerakan hack and slash dengan gabungan pukulan dan sepakan mematikan. Belum juga jika menyaksikan pahlawan Wakanda itu lakukan gabungan capoeira, ditanggung semakin kece dan asyik.

Selainnya serang, si protagonis bisa juga melakukan tindakan dalam bertahan. Yap, lewat armor kepunyaannya, Black Panther dapat membuat energi untuk jadi gelombang kejut. Masalah visi, Marvel’s Avengers: War for Wakanda berkesan biasa-biasa saja. Ada visi khusus dan pasti visi sambilan yang dapat digerakkan untuk memperoleh hadiah.

Yang pantas dikenang ialah durasi waktu permainan. Bila mainkan di bawah 4 jam, kemungkinan tidak jadi permasalahan. Tetapi, di atas itu, kamu akan jemu dan benar-benar jemu untuk memainkan. Apa lagi, ada banyak visi berhadiah yang mengharuskan pemain untuk lakukan grinding yang garing dan menjemukan. Bahkan juga, umumnya tugasnya benar-benar repetitif dan berkesan itu melulu.

Pilihan Game Online Indonesia 3d Versi Terbaru

Nikmati Game Buatan Indonesia 3d Dengan Tampilan Baru

3. Grafis keren walau bukan yang terbaik

Marvel Avengers - E-P-C

Untung developer dapat membuat pengembangan ini kali dengan grafis bagus. Minimal, grafis bagus akan kurangi rasa jemu ketika grinding dan lakukan visi yang itu melulu. Dunia Wakanda dilukiskan dengan benar-benar detil, cantik, hidup, dan pasti imbang di antara kekinian dan tradisionil.

Walau bukan terhitung kelas memikat, grafis pada games ini kali lebih baik daripada pengembangan-ekspansi awalnya. Oh, ya, khusus untuk senjata dan armor dari si protagonis, Crystal Dynamics sebagai pengembang ternyata dapat membuat semua lebih nikmat untuk dilihat. Macam lawan juga bermacam dan dapat diperlihatkan dengan cukup detil.

Grafis pada War for Wakanda ini memanglah tidak dapat disebutkan jadi grafis terbaik untuk games sekelas PS5 dan PC modern. Bila dibanding dengan beberapa games bergrafis memikat yang lain, pengembangan kali ini kelihatan masih ketinggal. Tetapi, pada umumnya, Square Enix dan Crystal Dyamics bisa berbangga karena penampilan grafis punya mereka telah dikelompokkan bagus.

4. Audio lumayan bagus, tapi kurang dari sisi kreasi

Marvel's Avengers: War for Wakanda preview: the Black Panther DLC is a step  in the right direction | GamesRadar+

Walau ada kenaikan, audio, musik, dan suara watak dalam games pengembangan ini kali masih dirasakan kurang inovatif. Bukanlah buruk, tetapi tetap ada yang kurang, bahkan juga di beberapa momen tertentu akan berasa mengusik (annoying). Dengar kualitas audio pada Marvel’s Avengers: War for Wakanda, akan lebih bagus kembali bila kamu menggunakan earphone.

Oh, ya, berharap menjaga harapanmu bila ingin mainkan games yang berwarna-warna ini. Masalahnya dampak audio yang dipakai sudah pasti berlainan dengan audio dalam beberapa film Marvel umumnya. Bila dapat diambil penilaian, kualitas audio dalam games ini kali tidak jelek dan tidak demikian bagus alias biasa saja.

5. Harus dikoleksi oleh fans Black Panther

War For Wakanda adds 7-8 hours of story content to Marvel's Avengers |  PCGamesN

Keseluruhannya, produser dan sutradara telah dipandang mampu hidupkan Black Panther ke sebuah games khusus berbentuk pengembangan. Kelihatan jika mereka bermain aman dengan ikuti jalan cerita yang serupa tepat seperti pada film dan komiknya. Walau terkadang dirasakan menjemukan, Marvel’s Avengers ini kali dapat menanganinya dengan kenaikan grafis dan gameplay yang menyenangkan.

Bila kamu fans Semesta Marvel, khususnya watak Black Panther, games ini dapat menjadi satu diantara koleksi bernilai. Kebalikannya, bila tidak demikian sukai dengan dunia Marvel dan sekedar ingin ketahui, pengembangan ini kali kemungkinan tidak demikian memikat buat kamu turuti.

Misi-misi yang dirasa repetitif dan meletihkan kemungkinan menjadi satu diantara minus paling besar dalam games ini. Tidak dipungkuri, memanglah tidak gampang membuat games dengan keterkaitan visi sambilan yang sarat dengan grinding. Salah-salah, gamer cuman memainkan tidak sampai 3 jam. Well, untuk penulis, score untuk Marvel’s Avengers: War for Wakanda ialah 3/5.

Baca Juga : [REVIEW] LOST in Blue (Global) – Jadilah Penyintas yang Inovatif

 

Categories
Review Game

[REVIEW] LOST in Blue (Global) – Jadilah Penyintas yang Inovatif

E-P-C – Pada 26 Juli 2021, Volcano Force sudah melaunching sebuah games yang cukup bagus dengan judul LOST in Blue versus global. Games ini dapat didownload dan terpasang pada HP punyamu dengan catatan jika mekanisme operasi yang kamu pakai ialah Android yang cukup baru. Pada umumnya, games memiliki ukuran tidak sampai 1 GB ini sudah memperoleh penilaian positif dari beberapa pemain.

Nach, bagaimana pengalaman penulis sepanjang memainkan? Apa memang games ini sebaik yang disebutkan oleh mayoritas gamer? Yok, baca penjelasannya di bawah ini.

1. Berat narasi yang cukuplah sederhana

[REVIEW] LOST in Blue (Global) - Jadilah Penyintas yang Inovatif

Dapat disebutkan jika berat narasi dalam LOST in Blue terhitung simpel. Tetapi, arti simpel di sini tidak mengarah pada kualitas kreasi yang ala-ala kandungannya saja. Lebih dari itu, Volcano Force dapat meramu plot yang sederhana jadi suatu hal yang kompleks dan cukup menyenangkan buat dimainkan. Semakin dalam kamu memainkan, semakin banyak pula visi yang harus kamu tuntaskan.

Sebelumnya, dikisahkan jika kamu menjadi satu diantara penyintas dari sebuah kecelakaan pesawat yang jatuh di pulau aneh. Nach, semenjak itu kamu dan penyintas-penyintas yang lain harus bertahan hidup di pulau itu. Bukan hanya bertahan dari garangnya alam liar, pemain harus juga bertahan hidup di tengah-tengah garangnya makhluk-makhluk aneh, seperti zombi dan mutan.

Untuk penulis sendiri, alur cerita seperti ini sangat terasa sama dengan beberapa games survival yang lain. Kumpulkan sumber daya, membuat basis, dan cari komune sebagai jejeran komponen yang hendak kamu lakukan sebagai seorang penyintas.

2. Kerja-sama dan kreasi bisa tingkatkan kesempatanmu untuk selamat

[REVIEW] LOST in Blue (Global) - Jadilah Penyintas yang Inovatif - E-P-C

Selainnya hebat, LOST in Blue ternyata punyai banyak feature dan proses permainan yang dapat kamu lakukan menjadi penyintas di pulau aneh. Pada intinya, games multiplayer ini mempunyai kesamaan dengan games semacam yang lain. Misalkan, kamu tetap dituntut untuk bekerja bersama dengan beberapa pemain yang lain dari penjuru dunia dan bersatu dalam hadapi gerombolan zombi dan mutan.

Pasti kamu diharuskan untuk kumpulkan sumber daya yang ada. Tidak lupa basis harus kamu bikin dan jaga agar aman dari gempuran lawan. Kreasi saat membuat atau membuat senjata dan proses pertahanan diri benar-benar tentukan kesempatanmu agar bisa selamat di tengah-tengah garangnya alam yang berisi beragam makhluk aneh.

Oh, ya, bukan sekedar bergerak dari 1 titik di titik lain, games ini malah punyai misi-misi yang memiliki bobot untuk dituruti oleh gamer. Sebagian besar visi dapat disebutkan bukan visi yang simpel. Masalahnya ada beragam jenis halangan yang hendak kamu temui, seperti musibah yang memiliki sifat alami sampai monster-monster yang cukup susah untuk dikalahkan seorang diri.

Itu penyebabnya, merajut komunikasi dan bekerja bersama dengan NPC sangat disarankan. Mekanisme kontrol di HP Android gampang untuk diadaptasi. Ingin bermain memakai netbook juga oke. Yap, kamu dapat memakai emulator Android paling dipercaya yang dapat kamu peroleh di internet.

3. Penampilan visualnya tidak dapat disepelekan

0Lost In Blue - E-P-C

Kamu dapat mengambil dan memasangkan games ini di HP Android punyamu. Ukuran yang cuman sekitar 600 MB tidak menghapus bukti jika kualitas grafisnya cukup menganakemaskan mata untuk sekelas games Android. Bila ingin tahu dengan grafis dan belum ingin mengambilnya, kamu dapat semakin dahulu menyaksikan beberapa grafis LOST in Blue yang diperlihatkan di YouTube, Uptodown, dan Google Play.

Lingkungan dan alam dapat dilukiskan dengan cukup detil walau masih tetap ada bagian-bagian yang cukup kabur. Bahkan juga, beberapa jenis monster juga cukup bervariatif dan tidak akan membuat kamu jemu. Beberapa warna ceria akan menghias cantiknya pulau misteri yang hendak kamu telusuri. Tetapi, secara cepat, aura dapat berbeda mencolok pada saat gerombolan makhluk mutan tiba silih ganti.

Pada umumnya, LOST in Blue dapat digolongkan games Android bertopik survival dengan grafis yang nikmat dilihat. Design visual dari alam, watak, dan monster sudah sukses diperlihatkan dalam bebatan warna yang kaya, tapi tidak berkesan lebai. Well, respek untuk Volcano Force yang dapat meringkas semua dalam sebuah file yang lumayan ringan.

4. Audio berkesan sepi dan kurang impresif

Lost in Blue: Shipwrecked review | GamesRadar+

Walau tampil dengan grafis dan gameplay yang pantas dapat acungan jempol, kualitas audionya malah kedengar sepi dan tidak impresif. Ya, untuk penulis, beberapa suara yang didengar di sejauh permainan masih tidak dapat tinggalkan kesan-kesan dalam untuk gamer. Pengembang kelihatannya memang konsentrasi pada audio dasar dan tidak dengan mekanisme musikalnya.

Baca Juga : 5 Games Dengan Dunia Terluas, Ada Yang Sampai Keluar Angkasa!

Tetapi, di satu segi, kita akan rasakan begitu sunyi dan sepinya keadaan pulau yang kita telusuri. Raungan dan suara monster terkadang tidak ada cukup mengerikan dan tentu saja tidak ada suara pembicaraan di antara watak yang kita permainkan dengan NPC yang ada. Apa ini jadi sebuah kekurangan? Silahkan permainkan dan memutuskan sendiri, ya.

Lepas dari itu semua, sebenarnya audio indie yang dikerjakan oleh developer pun tidak dapat disebutkan jelek. Kemungkinan kwalitasnya akan kedengar lebih bagus saat kamu mainkan LOST in Blue dengan menggunakan earphone. Nach, penulis sendiri sebenarnya dapat nikmati permainan ini walau audio yang didengar tidak impresif seperti banyak games zombi yang lain.

5. Dapat mencolok di tengah-tengah banyak games survival yang lain

LOST in Blue 1.65.3 for Android - Download

Dengan semua keunggulannya, LOST in Blue cukup penuhi harapan untuk penulis. Plot narasi yang sederhana dapat dilakukan lewat sebuah gameplay dalam bebatan grafis modern yang cukup menganakemaskan mata. Kualitas audio yang berkesan sepi dan kurang impresif kemungkinan jadi salah satu kekurangan yang dapat melumpuhkan games ini.

Tetapi, keseluruhannya, kreasi dari Volcano Force ini dapat tampil mencolok bila dipertemukan dengan beberapa games sejenis survival yang lain. Kamu dapat rasakan intensnya kreasi dan kerja-sama antarkarakter sebagai jalan yang hendak tingkatkan kesempatan gamer untuk selamat.

So, penulis memberi score 4/5 untuk LOST in Blue. Di tengah-tengah masifnya kompetisi developer games Android saat membuat beberapa game bertopik sama, Lost in Blue sanggup tampil berlainan, bahkan juga lebih kompleks . Maka, jika ingin tahu dengan games yang ini, selekasnya saja ambil dan permainkan di HP punyamu.